latihan untuk perkembangan otot dada

Otot dada merupakan salah satu otot utama yang membentuk tubuh bagian atas agar terlihat indah dan ideal. Salah satu keunggulan melatih otot dada adalah bahwa bagian ini sering menjadi pusat perhatian dalam penampilan, sehingga banyak sekali orang yang ingin membentuk otot dada mereka untuk mendapatkan rasa percaya diri mereka.

Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Yang Maksimal Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Maksimal

Ada banyak cara untuk mendapatkan otot dada yang indah, salah satunya adalah dengan latihan flyes. Latihan flyes adalah latihan efektif bagi Anda yang mendambakan otot dada tebal dan ingin membentuk tubuh bagian atas.

Contoh latihan flyes yang bisa Anda lakukan untuk membentuk otot dada adalah:

    1. Reverse Dumbbell Flyes
      Latihan ini memungkinkan otot dada terlatih secara langsung sesuai gerakan vertikal kedua tangan Anda. Selain itu, manfaat lain dari berlatih Reverse Dumbbell Flyes adalah untuk meningkatkan kekuatan otot punggung bagian atas dan berguna untuk memperbaiki postur tubuh Anda.

Reverse Dumbbell Flies Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Maksimal

Tahapan Pelaksanaan:

      • Berbaring tengkurap pada incline bench
      • Genggam dumbbell di kedua tangan
      • Buka tangan Anda ke samping
      • Kemudian turunkan dengan perlahan
      • Ulangi 10-15 repetisi
    1. Incline Bench Flyes
      Latihan selanjutnya adalah latihan incline bench flyes. Tidak jauh berbeda dengan latihan Flat bench flyes, latihan Incline Bench Press berguna untuk melatih otot dada dan otot bahu. Posisi latihan ini memungkinkan punggung Anda tidak dalam posisi melengkung, sehingga Anda dapat terhindar dari nyeri punggung.

Incline dumbbell flies Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Maksimal

Tahapan Pelaksanaan:

      • Berbaring pada incline bench
      • Genggam dumbbell di kedua tangan
      • Buka tangan Anda ke samping
      • Kemudian tutup ke atas
      • Ulangi 10-15 repetisi
    1. Standing Cable Flyes
      Pilihan lain untuk melatih otot dada Anda adalah berlatih dengan menggunakan kabel yang bisa Anda lakukan dengan berlatih cable flyes. Anda bisa melakukan latihan ini dengan posisi berdiri ataupun berbaring. Hal menarik yang bisa Anda dapatkan dari latihan ini adalah, selain berguna untuk melatih otot dada, Anda bisa melatih otot perut sekaligus jika Anda melakukan latihan ini dengan berdiri. Meningkatkan kekuatan otot perut berarti meningkatkan keseimbangan tubuh Anda keseluruhan.

Standing Cable Flyes Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Maksimal

Tahapan Pelaksanaan:

      • Berbaring pada sebuah flat bench
      • Genggam kedua handle cable dengan kedua tangan
      • Tarik handle bersamaan ke atas dada Anda
      • Kembali ke posisi awal dengan perlahan
      • Ulangi 10-15 repetisi
    1. Berlatih Flyes Menggunakan Bola Latihan
      Untuk variasi latihan flyes yang lebih menyenangkan, Anda bisa berlatih menggunakan bola latihan. Latihan flyes jenis ini baik bagi Anda yang ingin melatih otot dada dan otot perut sekaligus. Sekalipun beban Anda sedikit berkurang saat berlatih menggunakan bola latihan, namun otot dada dan perut Anda tetap terlatih dengan baik melalui gerakan yang tidak stabil dari bola latihan.

Flyes with bosu ball Latihan Flyes Untuk Perkembangan Otot Dada Maksimal

Tahapan Pelaksanaan:

    • Berbaring pada sebuah bola latihan / bosu ball
    • Genggam dumbbell di kedua tangan
    • Buka tangan Anda ke samping
    • Kemudian tutup ke atas
    • Ulangi 10-15 repetisi

Untuk merangsang pertumbuhan ototdada, tambahkan beberapa set dan repetisi pada latihan flyes Anda. Lakukan 2-3 set dengan 10-15 repetisi untuk meningkatkan pertumbuhan otot dada lebih optimal. Seimbangkan latihan Anda dengan istirahat cukup dan nutrisi yang tepat untuk menunjang pembentukan otot dada Anda. Selamat berlatih.

Tambang Batubara

 

Metode penambangan batubara sangat tergantung kepada :
1. Keadaan geologi daerah antara lain : sifat lapisan batuan penutup, batuan lantai batubara, struktur geologi
2. Keadaan lapisan batubara dan bentuk deposit

Pada dasarnya dikenal dua cara penambangan batubara yaitu :

1. Tambang Dalam (Underground)

Dilakukan pertama-tama dengan jalan membuat lubang persiapan baik berupa lubang sumuran ataupun berupa lubang mendatar atau menurun menuju ke lapisan batubara yang akan ditambang. Selanjutnya dibuat lubang bukaan pada lapisan batubaranya sendiri. Cara penambangannya sendiri dapat dilakukan :
a. Secara manual, yaitu menggunakan banyak alat yang memakai kekuatan tenaga manusia
b. Secara mekanis, yaitu mempergunakan alat sederhana sampai menggunakan system elektronis dengan pengendalian jarak jauh

2. Tambang Terbuka 

Dilakukan pertama-tama dengan mengupas lapisan tanah penutup. Pada saat ini metode penambangan mana yang akan dipilih dan kemungkinan mendapatkan peralatan tidak mengalami masalah. Peralatan yang ada sekarang dapat dimodifikasi sehingga berfungsi ganda. Perlu diketahui bahwa berbagai jenis batubara memerlukan jenis dan peralatan yang berbeda pula. Mesin-mesin tambang modern sudah dapat digunakan untuk kegiatan penambangan dengan jangkauan kerja yang lebih luas dan mampu melaksanakan berbagai macam pekerjaan tanpa perlu dilakukan perubahan dan modifikasi besar. Pemilihan metode panambangan batubara baik yang akan ditambang secara tambang dalam ataupun tambang terbuka ditentukan oleh factor :

a. Biaya penambangan
b. Batubara yang dapat diambil (coal recovery)
c. Pengotoran hasil produksi oleh batuan ikutan

Dalam memperhitungkan biaya penambangan dengan metode tambang terbuka harus termasuk juga biaya pembuangan tanah penutup batubara sampai pada kemiringan lereng yang seaman mungkin (slope angle). Perbandingan antara lapisan batuan tanah penutup dengan batubara merupakan factor penentu dalam memilih metode penambangan, untuk itu perlu dihitung terlebih dahulu break even stripping ratio, yaitu perbandingan antara selisih biaya untuk penambangan satu ton batubara secara tambang dalam dan tambang terbuka dibagi dengan biaya pembuangan setiap ton tanah penutup lapisan batubara.

Contoh :
Suatu rencana penambangan batubara diperhitungkan apabila dilaksanakan secara tambang dalam memerlukan biaya Rp. 20.000,- setiap tonnya. Apabila dilakukan secara tambang terbuka Rp. 8.000,-, sedang biaya pengupasan tanah penutup pada tambang terbuka adalah Rp. 2.000,- per tonnya. Stripping ratio antara tambang terbuka yang menghasilkan perbedaan biaya impas (break even cost) dengan penambangan secara tambang dalam adalah :

20.000 – 8.000
break even stripping ratio =
———————-
= 6
2.000
 
Dengan demikian break even stripping ratio adalah 6 : 1, yang berarti bahwa untuk mengambil 1 ton batubara maksimum jumlah tanah penutup harus dibuang adalah 6 ton. Dengan demikian maka cara penambangannya sudah harus ditinjau kembali karena dianggap secara ekonomis sudah tidak menguntungkan lagi.

A. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG TERBUKA

Kelebihan tambang terbuka dibandingkan dengan tambang dalam adalah :
a. Relative lebih aman
b. Relative lebih sederhana
c. Mudah pengawasannya

Pada saat ini sebagian besar penambangan batubara dilakukan dengan metode tambang terbuka, lebih-lebih setelah digunakannya alat-alat besar yang mempunyai kapasitas muat dan angkut yang besar untuk membuang lapisan tanah penutup batubara. Dengan demikian pekerjaan pembuangan lapisan tanah penutup batubara menjadi lebih murah dan menekan biaya ekstraksi batubara. Selain itu prosentase batubara yang diambil jauh lebih besar dibanding dengan batubara yang dapat diekstraksi dengan cara tambang dalam. Penambangan batubara dengan metode tambang terbuka saat ini diperoleh 85% dari total mineable reserve, sedang dengan metode tambang dalam paling besar hanya 50% saja. Walaupun demikian penambangan secara tambang terbuka mempunyai keterbatasan yaitu :

a. Dengan peralatan yang ada pada saat sekarang ini keterbatasan kedalaman lapisan batubara yang dapat ditambang.
b. Pertimbangan ekonomis antara biaya pembuangan batuan penutup dengan biaya pengambilan batubara

Beberapa tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka tergantung pada letak dan kemiringan serta banyaknya lapisan batubara dalam satu cadangan. Disamping itu metode tambang terbuka dapat dibedakan juga dari cara pemakaian alat dan mesin yang digunakan dalam penambangan.

Beberapa tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka adalah :

1. Contour Mining

Tipe penambangan ini pada umumnya dilakukan pada endapan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan. Penambangan batubara dimulai pada suatu singkapan lapisan batubara dipermukaan atau cropline dan selanjutnya mengikuti garis contour sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuang kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diangkut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut diatas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja. Batas ekonomis ini ditentukan oleh beberapa variable antara lain :

a. Ketebalan lapisan batubara
b. Kualitas
c. Pemasaran
d. Sifat dan keadaan lapisan batuan penutup
e. Kemampuan peralatan yang digunakan
f. Persyaratan reklamasi

Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umumnya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal mobile equipment. Alat-alat besar seperti :

a. Alat muat : wheel loader, track loader, face shovel, back hoe
b. Alat angkut jarak jauh : off highway dump truck
c. Alat angkut jarak dekat : scraper

Alat-alat tersebut dipergunakan untuk pekerjaan pembuangan lapisan penutup batubara, sedangkan untuk pengambilan batubaranya dapat digunakan dengan alat yang sama atau yang lebih kecil tergantung tingkat produksinya. Kapasitas alat angkut berupa off highway dump truck antara 18 ton sampai 170 ton. Di Indonesia, tipe contour mining diterapkan antara lain di Tambang Batubara Ombilin Sawah Lunto Sumatera Barat.

Ditempat ini penambangan secara besar-besaran telah dimulai sejak tahun 1977 dengan menggunakan mobile equipment berupa alat muat yang terdiri dari front end loader berkapasitas 5-6 m3 dan face shovel 7 m3, sedang untuk alat angkut digunakan off highway dump truck berkapasitas 35 ton dan 50 ton, selain itu dipergunakan scrapper kapasitas 15 m3. Mengingat batuan penutupnya sangat keras maka digunakan peledakan, dengan menggunakan beberapa unit alat bor drill blasthole machine yang mempunyai kemampuan bor berdiameter sampai 6 inches, sedangkan bahan peledaknya dipergunakan ammonium nitrat dan solar (ANFO). Pengekstraksian batubara digunakan excavator berukuran 4 m3 dengan alat angkut berupa coal houler kapasitas 18 ton.

2. Open Pit Mining

Open pit mining adalah cara penambangan secara terbuka dalam pengertian umum. Apabila hal ini diterapkan pada endapan batubara dilakukan dengan jalan membuang lapisan batuan penutup sehingga lapisan batubaranya tersingkap dan selanjutnya siap untuk diekstraksi. Peralatan yang dipakai pada penambangan secara open pit dapat bermacam-macam tergantung pada jenis dan keadaan batuan penutup yang akan dibuang. Dalam memilih peralatan perlu dipertimbangkan :

a. Kemiringan lapisan batuan
Pada lapisan dengan kemiringan cukup tajam pembuangan lapisan tanah penutup dapat menggunakan alat muat baik berupa face shovel, front end loader atau alat muat lainnya
b. Masa operasi tambang
Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal atau dalam dan dilakukan dengan menggunakan beberapa bench. Peralatan yang digunakan untuk pembuangan lapisan tanah penutup batubara dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Peralatan yang bersifat mobile antara lain track shovel, front end loader, bulldozer, scrapper
2. Peralatan yang bersifat bekerja secara continue membuang lapisan tanah penutup tanpa dibantu alat angkut.
3. Stripping Mining

Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar atau dekat dengan permukaan tanah. Alat yang digunakan dapat berupa alat yang sifatnya mobile atau alat penggalian yang dapat membuang sendiri. Penambangan batubara yang akan dilakukan diwilayah kontraktor tambang batubara Kalimantan akan dimulai dengan cara tambang terbuka yang memakai alat kerja bersifat mobile.

B. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG DALAM

Pada penambangan batubara dengan metode tambang dalam yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan lubang bukaan seaman mungkin agar terhindar dari kemungkinan :
1. Keruntuhan atap batuan
2. Ambruknya dinding bukaan lubang (rib spalling)
3. Penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave)

Kejadian tersebut diatas disebabkan oleh terlepasnya energy yang tersimpan secara alamiah dalam endapan batubara. Energy yang terpendam tersebut merupakan akibat terjadinya perubahan atau deformasi bentuk endapan batubara selama berlangsungnya pembentukan deposit tersebut. Pelepasan energy tersebut disebabkan oleh adanya perubahan keseimbangan tegangan yang terdapat pada massa batuan akibat dilakukannya kegiatan pembuatan lubang-lubang bukaan tambang. Disamping itu kegagalan dapat disebabkan batuan dan batubara itu tidak mempunyai daya penyangga disamping factor-faktor alami dari keadaan geologi endapan batubara.

Penambangan batubara secara tambang dalam kenyataannya sangat ditentukan oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama mungkin pada saat berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau seekonomis mungkin. Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada setiap pembuatan lubang bukaan selalu diusahakan agar :
1. Kemampuan penyangga dari atap lapisan
2. Kekuatan lantai lapisan batubara
3. Kemampuan daya dukung pillar penyangga
Dimanfaatkan semaksimal mungkin. Namun apabila cara manfaat sifat alamiah tersebut sulit dicapai maka beberapa cara penyanggaan batuan telah diciptakan oleh ahli tambang. Metode panambangan secara tambang dalam pada garis besarnya dapat dibedakan yaitu :
a. Room and Pillar atau disebut pula Board and Pillar
b. Longwall
Kedua metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri terutama pada keadaan endapan batubara yang dihadapi disamping factor lainnya yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode penambangan tersebut.

Sumber : Ir. Sukandarrumidi, MSc, PhD, Batubara dan Gambut. Gajah Mada University Press

Sistem Pengereman Pada Kereta Api


Di kalangan komunitas pecinta kereta api, masalah sistem rem sangat sering dibicarakan. Mulai dari aspek teknis, sampai aspek lain yang berhubungan dengan keamanan dan kenyamanan berkeretaapi. Hampir semua kereta api yang sekarang operable di Indonesia menggunakan sistem rem angin Westinghouse (ada juga yang varian Knorr) untuk pengereman seluruh rangkaian KA. Selain itu, di dalam sistem lok sendiri juga terdapat independent brake (yang hanya bekerja pengereman lok sendiri).

Pada dasarnya, sistem rem di KA cukup sederhana. Untuk membuka rem hingga sepatu rem tidak menekan roda, maka dalam pipa saluran angin sepanjang KA diisi tekanan udara, tekanan ini mengisi tabung reservoir di tiap-tiap gerbong melalui sebuah katup yang disebut triple-valve. Melalui sebuah kompresor, katup ini akan terus mengisi reservoir untuk menjaga tekanan udara di pipa saluran. Begitu tekanan di pipa saluran ini dikurangi, maka katup akan membuat udara dalam reservoir menekan silinder rem. Semakin mendadak pengurangan tekanan yang ada dalam saluran, maka penekanan silinder rem akan makin kuat.

Sistem ini, kebalikan dari rem angin pada truk atau bis. Pada truk, silinder ditekan dengan memberikan tekanan angin atau oli secara langsung. Kenapa kebalikan? Supaya KA fail safe, misalnya rangkaian terputus, otomatis pipa antar rangkaiannya juga lepas, tekanan akan berkurang mendadak dan rangkaian akan mengerem darurat. Sementara itu, jika yang ditarik rem lokonya, memang roda lokonya akan terkunci, tetapi kalau sang masinis tidak memperhatikan dan main tarik terus, akibatnya roda rangkaian akan menjadi benjol.

Menurut gosip, suara KRL Holec yang bunyinya duk..duk..duk..duk (apalagi kalau pas lagi lewat Gambir dan kita berada di lantai bawahnya, kedengaran jelas). Itu akibat pengisian salurannya kurang cepat, jadi roda sebagian masih terkunci sudah ditarik, jadi pada benjol, akibatnya ya bunyi duk.. duk.. itu!

Bagimana dengan handel rem darurat di setiap gerbong? Alat itu fungsinya untuk membuka katup yang terhubung ke saluran angin yang menjalar di sepanjang KA. Begitu diputar, tekanan udara di saluran akan terbuang, silinder mengunci, KA akan mengerem darurat. Tidak perlu pakai sensor dan lain-lain,murah meriah! Di luar negeri, terutama AS, sekarang memang sedang dikembangkan sistem pemberian komando menggunakan sinyal elektrik ke rangkaian. Soalnya, semakin panjang rangkaian laju rambat angin dalam saluran relatif lambat, sehingga pengereman tidak bisa sekaligus, tapi mulai dari rangkaian yang paling dekat loko.

Penjalaran sinyal elektrik yang cepat, diharapkan dapat mengatasi masalah itu. Sistem Westinghouse sebenarnya relatif aman, tetapi kalau tidak hati hati, misalnya sewaktu menggandeng rangkaian semua reservoirnya kosong, atau katup antar gerbong lupa di buka, sementara masinis menduga kalau saluran angin sudah terisi, akibatnya nanti waktu akan mengerem rangkaian pasti ia akan terkejutnya setengah mati! Makanya sekarang kita sering melihat — terutama di stasiun pemberangkatan awal — ada petugas yang membawa manometer yang mengecek ke rangkaian paling belakang dan melakukan pengecekan apakah saluran anginnya sudah penuh terisi oleh kompresor yang dilakukan lokomotif.

Ada lagi masalah, di Indonesia kita sering melihat ada orang yang naik di sambungan antar KA, ini sangat membahayakan (bukan buat orangnya, tapi buat sistem pengereman). Kalau secara tidak sengaja katup saluran antargerbong tersenggol dan tertutup, maka sewaktu masinis megerem, maka hanya sebagian rangkaian saja yang akan mengerem karena salurannya masih terhubung, tetapi untuk gerbong yang salurannya tertutup sampai dengan rangkaian paling belakang remnya tidak akan berfungsi, karena pipa salurannya masih bertekanan dan tertutup, jadi tidak ikut turun tekanannya. Memang untuk membuka dan menutup katup tidak semudah tersenggol, tapi dapat dibayangkan kalau diinjak misalnya, tenaganya cukup untuk memutar katup!.

Kejadian sebaliknya, kalau selangnya terinjak dan lepas, seluruh rangkaian akan mengerem mendadak. Sewaktu zaman SS dulu, sistem pengereman yang digunakan adalah sistem vacuum (makanya orang kita bilang kalau rem mobil, motor, atau sepedanya bagus,disebut remnya “pakem” yang berasal dari katavacuum). Kalau sistem ini, di sepanjang pipa saluran rem, udara disedot sampai benar-benar vacuum, sehingga silinder rem terbuka (opened). Waktu akan mengerem, udara luar dibocorkan masuk ke dalam saluran, maka silinder akan menekan kampas rem. Kalau rangkaian putus, maka pipa saluran akan langsung terisi udara, jadi otomatis akan mengerem darurat. Kekurangan sistem ini adalah daya tekan remnya tidak bisa sebesar sistem udara tekan Westinghouse, soalnya tekanan udara bebas kan hanya 1 atm, sedang sistem Westinghouse bisa 6-7 atm atau malah lebih.

Lok-lok disel model lama seperti BB301 ada sebagian yang mempunyai dua sistem, Westinghouse dan vacuum, jadi di dalam lok ada kompresor dan pembangkit vacuum. Alat untuk mengeceknya bernama vacuum-manometer. Anda pernah melihat petugas sewaktu akan melangsir gerbong penumpang? Yang dilakukan pertama pasti ia menarik handel di bawah gerbong untuk menghilangkan tekanan yang ada di dalam reservoir, supaya sepatu remnya terangkat. Untuk menghemat waktu, biasanya gerakan langsiran dilakukan tanpa menghubungkan saluran angin rem! Pengereman dilakukan mengandalkan independent brake loko saja. Di stasiun Tugu, saya pernah menyaksikan lok langsir D301 sedang melangsir rangkaian gerbong penumpang. Waktu direm, roda lokonya memang sudah berhenti, tapi masih terseret oleh momentum rangkaian gerbong! Lumayan sih, sampai beberapa meter.

Peribahasa Jawa

Semoga bermanfaat untuk anda sekalian yang masih peduli kebudayaan lokal asli nusantara maupun bagi yang gemar olah sastra dan budaya lokal.

A

Adhang-adhang tetese embun : njagakake barang mung sak oleh-olehe.

Adigang, adigung, adiguna : ngendelake kekuwatane, kaluhurane lan kepinterane.

Aji godhong garing (aking) : wis ora ana ajine / asor banget.

Ana catur mungkur : ora gelem ngrungokake rerasan kang ora becik.

Ana daulate ora ana begjane : arep nemu kabegjan nanging ora sida (untub-untub).

Ana gula ana semut : papan sing akeh rejekine, mesti akeh sing nekani.

Anak polah bapa kepradah : tingkah polahe anak dadi tanggungjawabe wong tuwa.

Anggenthong umos (bocor/rembes) : wong kang ora bisa nyimpen wewadi.

Angon mongso : golek waktu kang prayoga kanggo tumindak.

Angon ulat ngumbar tangan : ngulatake kahanan menawa kalimpe banjur dicolong.

Arep jamure emoh watange : gelem kepenake ora gelem rekasane.

Asu rebutan balung : rebutan barang kang sepele.

Asu belang kalung wang : wong asor nanging sugih.

Asu gedhe menang kerahe : wong kang dhuwur pangkate mesti bae gede panguwasane.

Asu marani gebuk : njarak / sengaja marani bebaya.

Ati bengkong oleh obor : wong kang duwe niyat ala malah oleh dalan.

B

Baladewa ilang gapite (jepit wayang) : ilang kekuwatane / kaluhurane.

Banyu pinerang ora bakal pedhot (sigar) : pasulayan sedulur ora bakal medhotake sedulurane.

Bathang lelaku : lunga ijen ngambah panggonan kang mbebayani.

Bathok bolu isi madu (bolong telu) : wong asor nanging sugih kepinteran.

Blaba wuda : saking lomane nganti awake dhewe ora keduman.

Bebek mungsuh mliwis : wong pinter mungsuh wong kang podho pintere.

Becik ketitik ala ketara : becik lan ala bakal konangan ing tembe mburine.

Belo melu seton (malem minggu) : manut grubyuk ora ngerti karepe (taklid).

Beras wutah arang bali menyang takere : barang kang wis owah ora bakal bali kaya maune.

Bidhung api rowang : ethok-ethok nulung nanging sejatine arep ngrusuhi.

Balilu tan pinter durung nglakoni (bodho) : wong bodho sering nglakoni, kalah pinter ro wong pinter nanging durung tau nglakoni.

Bubuk oleh leng : wong duwe niyat ala oleh dalan.

Bung pring petung : bocah kang longgor (gelis gedhe).

Buntel kadut, ora kinang ora udud : wong nyambut gawe borongan ora oleh mangan lan udud.

Buru (mburu) uceng kelangan dheleg : golek barang sepele malah kelangan barang luwih gedhe.

Busuk ketekuk, pinter keblinger : wong bodho lan pinter padha wae nemu cilaka.

C

Carang canthel : ora diajak guneman nanging melu-melu ngrembug.

Car-cor  kaya kurang janganan : ngomong ceplas-ceplos oran dipikir disik.

Cathok gawel (timangan sabuk) : seneng cawe-cawe mesthi ora diajak guneman.

Cebol nggayuh lintang : kekarepan kang ora mokal bisa kelakon.

Cecak nguntal cagak (empyak) : gegayuhan kang ora imbang karo kekuwatane.

Cedhak celeng boloten (gupak lendhut) : cedhak karo wong ala bakal katut ala.

Cedhak kebo gupak :  cedhak karo wong ala bakal katut ala.

Ciri wanci lelai ginawa mati : pakulinan ala ora bisa diowahi yen durung nganti mati.

Cincing-cincing meksa klebus : karepe ngirit nanging malah entek akeh.

Criwis cawis : seneng maido nanging yo seneng menehi/muruki.

Cuplak andheng-andheng, yen ora pernah panggonane bakal disingkirake : wong kang njalari ala becike disingkirake.

D

Dadiya banyu emoh nyawuk, dadiya godhong emoh nyuwek, dadiyo suket emoh nyenggut : wis ora gelem nyanak / emoh sapa aruh.

Dahwen ati open (seneng nacad) :  nacad nanging mbenerake wong liya.

Dandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dandhang : ala dianggep becik, becik dianggep ala.

Desa mawa cara, negara mawa tata : saben panggonan duwe cara utawa adat dhewe-dhewe.

Dhemit ora ndulit, setan ora doyan : tansah diparingi slamet, ora ana kang ngganggu gawe.

Digarokake dilukoke : dikongkon nyambut gawe abot.

Didhadhunga medhot, dipalangana mlumpat :  wong kang kenceng karepe ora kena dipenggak.

Diwenehi ati ngrogoh rempela : diwenehi sithik ora trima, malah njaluk sing akeh.

Dom sumuruping mbanyu : laku sesideman kanggo meruhi wewadi.

Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan : senajan wong liya yen lagi nemoni rekasa bakal dibelani.

Duka yayah sinipi, jaja bang mawinga-wingi : wong kang nesu banget.

Dudutan lan anculan (tali memeden sawah) : padha kethikan, sing siji ethok-ethok ora ngerti.

Durung pecus keselak besus : durung sembada nanging kepengin sing ora-ora.

E

Eman-eman ora keduman : karepe eman malah awake dewe ora keduman.

Emban cindhe emban siladan (slendang iratan pring) : pilih kasih / ora adil.

Embat-embat celarat (klarap) :  wong nyambut gawe kanthi ngati-ati banget.

Emprit abuntut bedhug : perkara sing maune sepele dadi gedhe / ngambra-ambra.

Endhas gundul dikepeti : wis kepenak ditambahi kepenak maneh.

Endhas pethak ketiban empyak : wong kang bola-bali nemu cilaka.

Enggon welut didoli udhet : panggone wong pinter dipameri kepinteran sing ora sepirowa.

Entek ngamek kurang golek : anggone nyeneni/nguneni sakatoge.

Entek jarake : wis entek kasugihane.

Esuk dhele sore tempe : wong kang ora tetep atine (mencla mencle).

G

Gagak nganggo lar-e  merak : wong asor / wong cilik tumindak kaya wong luhur (gedhe).

Gajah alingan suket teki : lair lan batine ora padha, mesthi bakal ketara.

Gajah (nggajah) elar : sarwa gedhe lan dhuwur kekarepane.

Gajah ngidak rapah (godhong garing) : nerang wewalere dewe.

Gajah perang karo gajah, kancil mati ing tengahe : wong gedhe sing padha pasulayan, wong cilik sing dadi korbane.

Garang garing : wong semugih nanging sejatine kekurangan.

Gawe luwangan kanggo ngurungi luwangan : golek utang kanggo nyaur utang.

Gayuk-gayuk tuna, nggayuh-nggayuh luput : samubarang kang dikarepake ora bisa keturutan.

Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh : senajan alon-alon anggone tumindak, nanging bisa kaleksanan karepe.

Golek banyu bening : meguru golek kawruh kang becik.

Golek-golek ketemu wong luru-luru : karepe arep golek utangan malah dijaluki utang.

Gupak pulute ora mangan nangkane : melu rekasa nanging ora melu ngrasakake kepenake.

I

Idu didilat maneh : murungake janji kang wis diucapake.

Iwak lumebu wuwu : wong kena apus kanthi gampang.

J

(n)Jagakake endhoge si blorok : njagagake barang kang durung mesthi ana lan orane.

(n)Jajah desa milang kori : lelungan menyang ngendi-endi.

Jalma angkara mati murka : nemoni cilaka jalaran saka angkara murkane.

(n)Jalukan ora wewehan : seneng njejaluk ora seneng menehi.

Jati ketlusupan ruyung : kumpulane wong becik kelebon wong ala.

Jaran kerubuhan empyak : wong wis kanji (kapok) banget.

Jarit lawas ing sampire : duwe kapinteran nanging ora digunakake.

Jer basuki mawa bea : samubarang gegayuhan mbutuhake wragat.

Jujul muwul : perkara kang nambah-nambahi rekasa.

(n)Junjung ngetebake / ngebrukake : ngalembana nanging duwe maksud ngasorake.

K

Kacang ora ninggal lanjaran : kebiasa-ane anak nirokake wong tuwane.

Kadang konang : gelem ngakoni sedulur mung karo sing sugih.

Kala cacak menang cacak : samubarang panggawean becik dicoba dhisik bisa lan orane.

Kandhang langit, bantal ombak, kemul mega : wong sing ora duwe papan panggonan.

Katepang ngrangsang gunung : kegedhen karep/panjangka sing mokal bisa kelakon.

Katon kaya cempaka sawakul : tansah disenengi wong akeh.

Kaya banyu karo lenga : wong kang ora bisa rukun.

Kakehan gludug kurang udan : akeh omonge ora ana nyatane.

Kabanjiran segara madu : nemu kabegjan kang gedhe banget.

Kebat kliwat, gancang pincang : tumindak kesusu mesthi ora kebeneran.

Kebo bule mati setra : wong pinter nanging ora ana kang mbutuhake.

Kebo ilang tombok kandhang : wis kelangan, isih tombok wragat kanggo nggoleki, malah ora ketemu.

Kebo kabotan sungu : rekasa kakehan anak tanggungan.

Kebo lumumput ing palang : ngadili perkara ora nganggo waton.

Kebo mulih menyang kandhange : wong lunga adoh bali menyang omahe / asale.

Kebo nusu gudel : wong tuwa njaluk wulang wong enom.

Kegedhen empyak kurang cagak : kegedhen karep nanging ora sembada.

Kajugrugan gunung menyan : oleh kabegjan kang gedhe banget.

Kekudhung walulang macan : ngapusi nggawa jenenge wong kang diwedeni.

Kelacak kepathak : ora bisa mungkir jalaran wis kebukten.

Kena iwake aja nganti buthek banyune : sing dikarepake bisa kelakon nanging aja nganti dadi rame/rusak.

Kencana katon wingko : senajan apik nanging ora disenengi.

Kendel ngringkel, dhadang ora godak : ngakune kendel tur pinter jebule jirih tur bodho.

Kenes ora ethes : wong sugih amuk nanging bodho.

Keplok ora tombok : wong senengane komentar thok nanging ora gelem tumindak.

Kere munggah mbale : batur dipek bojo karo bendarane.

Kere nemoni malem : wong kang bedigasan / serakah.

Kerot ora duwe untu : duwe kekarepan nanging ora duwe beaya / wragat.

Kerubuhan gunung : wong nemoni kesusahan sing gedhe banget.

Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang : nemoni cilaka kang ora kenyana-nyana.

Ketula-tula ketali : wong kang tansah nandang sengsara.

Kethek saranggon : kumpulane wong kang tindakane ala.

Kleyang kabur kanginan, ora sanak ora kadhang : wong kang ora duwe panggonan sing tetep.

Klenthing wadah uyah : angel ninggalake pakulinan tumindak ala.

Kongsi jambul wanen : nganti tumekan tuwa banget.

Krokot ing galeng : wong kang mlarat banget.

Kriwikan dadi grojogan : prakara kang maune cilik dadi gedhe banget.

Kumenthus ora pecus : seneng umuk nanging ora sembada.

Kurung munggah lumbung : wong asor / cilik didadekake wong gedhe.

Kuthuk nggendhong kemiri : manganggo kang sarwo apik/aji liwat dalan kang mbebayani.

Kutuk marani sunduk, ula marani gebuk : njarag marani bebaya.

Kuncung nganti temekan gelung : suwe banget anggone ngenteni.

L

Ladak kecangklak : wong kang angkuh nemoni pakewuh, marga tumindake dewe.

Lahang karoban manis : rupane bagus / ayu tur luhur budine.

Lambe satumang kari samerang : dituturi bola-bali meksa ora digugu.

Lanang kemangi : wong lanang kang jireh.

Legan golek momongan : wis kepenak malah golek rekasa.

Lumpuh ngideri jagad : duwe karepan kang mokal bisa keturutan.

M

Maju tatu mundur ajur : perkara kang sarwa pakwuh.

Matang tuna numbak luput : tansah luput kabh panggayuhan.

Mbuang tilas : ethok-ethok ora ngerti marang tumindak kang ala sing lagi dilakoni.

Meneng widara uleran : katon anteng nanging sejatin ala atine.

Menthung koja kena sembagine : rumangsane ngapusi nanging sejatine malah kena apus.

Merangi tatal : mentahi rembug kang wis mateng.

Mikul dhuwur mendhem jero : bisa njunjung drajate wong tuwa.

Milih-milih tebu oleh boleng : kakehan milih wekasan oleh kang ora becik.

Mrojol selaning garu : wong kang luput saka bebaya.

Mubra-mubra mblabar madu : wong sing sarwa kecukupan.

N

Nabok anyilih tangan : tumindak ala kanthi kongkonan uwong liya.

Ngagar metu kawul : ngojok-ojoki supaya dadi pasulayan, nanging sing diojoki ora mempan.

Ngajari bebek nglangi : panggawean sing ora ana paedahe.

Ngalasake negara : wong sing ora manut pranatane negara.

Ngalem legining gula : ngalembana kepinterane wong kang pancen pinter/sugih.

Ngaturake kidang lumayu : ngaturake barang kang wis ora ana.

Nglungguhi klasa gumelar : nindakake panggawean kang wis tumata.

Ngontragake gunung : wong cilik/asor bisa ngalahake wong luhur/gedhe, nganti gawe gegere wong akeh.

Nguthik-uthik macan dhedhe : njarag wong kang wis lilih nepsune.

Nguyahi segara : weweh marang wong sugih kang ora ana pituwase.

Nucuk ngiberake : wis disuguhi mangan mulih isih mbrekat.

Nututi layangan pedhot : nggoleki barang sepele sing wis ilang.

Nyangoni kawula minggat : ndandani barang sing tansah rusak.

Nyolong pethek : tansah mleset saka pametheke/pambatange.

O

Obah ngarep kobet mburi : tumindake penggede dadi contone/panutane kawula alit.

Opor bebek mentas awake dhewek : rampung saka rekadayane dhewe.

Ora ana banyu mili menduwur : watake anak biasane niru wong tuwane.

Ora ana kukus tanpa geni : ora ana sbab tanpa akibat.

Ora gonjo ora unus : wong kang ala atine lan rupane.

Ora mambu enthong irus : dudu sanak dudu kadhang.

Ora tembung ora tawung : njupuk barang liyan ora kandha disik.

Ora uwur ora sembur : ora gelem cawe-cawe babar pisan.

Ora kinang ora udud : ora mangan apa-apa.

Othak athik didudut angel : guneme sajak kepenak, bareng ditemeni jebule angel.

P

Palang mangan tandur : diwenehi kapercayan malah gawe kapitunan.

Pandengan karo srengenge : memungsuhan karo penguwasa.

Pandhitane antake : laire katon suci batine ala.

Pecruk (manuk kag magan iwak) tunggu bara : dipasrahi barang kang dadi kesenengan.

Pitik trondhol diumbar ing padaringan : wong ala dipasrahi barang kang aji, wekasane malah ngentek-entekake.

Pupur sadurunge benjut : ngati-ati sadurunge benjut.

R

Rampek-rampek kethek : nyedak-nyedak mung arep gawe kapitunan.

Rawe-rawe rantas malang-malang putung : samubarang kang ngalang-alangi bakal disingkirake.

Rebut balung tanpa isi : pasulayan merga barang kang sepele.

Rindhik asu digitik : dikongkon nindakake penggawean kang cocok karo kekarepane.

Rupa nggendhong rega : barang apik regane larang.

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah : yen padha rukun mesti padha santosa, yen padha congkrah mesthi padha bubrah/rusak.

S

Sabar sareh mesthi bakal pikoleh : tumindak samubarang aja kesusu supaya kasil.

Sabaya pati, sabaya mukti : kerukunan kang nganti tekan pati.

Sadumuk bathuk sanyari bumi : pasulayan nganti dilabuhi tekaning pati.

Sandhing kebo gupak : cedhak wong tumindak ala, bisa-bisa katut ala.

Satru mungging cangklakan : mungsuh wong kang isih sanak sedulur.

Sadhakep awe-awe : wis ninggalake tumindak ala, nanging batien isih kepengin nglakoni maneh.

Sembur-sembur adus, siram-siram bayem : bisa kalaksanan marga oleh pandongane wong akeh.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe : nindakake panggaweyan kanthi ora melik/pamrih apa-apa.

Sing sapa salah bakal seleh : sing sapa salah bakal konangan.

Sluman slumun slamet : senajan kurang ati-ati isih diparingi slamet.

Sumur lumaku tinimba, gong lumaku tinabuh : wong kang kumudu-kudu dijaluki piwulang/ditakoni.

T

Tebu tuwuh socane : prakara kang wus apik, bubrah marga ana sing ngrusuhi.

Tega larane ora tega patine : senajan negakake rekasane, nanging isih menehi pitulungan.

Tekek mati ing ulone : nemoni cilaka margo saka guneme dhewe.

Tembang rawat-rawat, ujare mbok bakul sunambiwara : kabar kang durung mesthi salah lan benere.

Timun jinara : prakara gampang banget.

Timun mungsuh duren : wong cilik mungsuh wang kuwat/panguwasa, mesthi kalahe.

Timun wungkuk jaga imbuh : wong bodho kanggone yen kekurangan wae.

Tinggal glanggang colong playu : ninggalake papan pasulayan.

Tulung (nulung) menthung : katone nulungi jebule malah nyilakani.

Tumbak cucukan : wong sing seneng adu-adu.

Tuna sathak bathi sanak : rugi bandha nanging bathi paseduluran.

Tunggak jarak mrajak tunggak jati mati : prakara ala ngambra-ambra, prakara becik kari sethitik.

U

Ucul saka kudangan : luput saka gegayuhane.

Ulat madhep ati manteb : wis manteb banget kekarepane.

Undaking pawarta, sudaning kiriman : biasane pawarta iku beda karo kasunyatane.

Ungak-ungak pager arang : ngisin-isini.

W

Welas tanpa lalis : karepe welas nanging malah gawe kapitunan.

Wis kebak sundukane : wis akeh banget kaluputane.

Wiwit kuncung nganti gelung : wiwit cilik nganti gedhe tuwa.

Y

Yitna yuwana mati lena : sing ngati-ati bakal slamet, sing sembrana bakal cilaka.

Yiyidan mungging rampadan : biyene wong durjana/culika saiki dadi wong sing alim.

Yuwana mati lena : wong becik nemoni cilaka marga kurang ngati-ati.

Yuyu rumpung mbarong ronge : omahe magrong-magrong nanging sejatine mlarat.

Mengerem yg baik dan benar

Melalui artikel sederhana ini, saya ingin mengajak semua teman-teman untuk berkendara dengan aman, mengutamakan keselamatan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang disekitar kita. Sudah banyak contoh kejadian kecelakaan yang menyalahkan fungsi rem, dikatakan “REM BLONG!”, padahal sebenarnya rem bekerja dalam kondisi sangat baik, namun cara kita ngeREM yang salah, membuat kendaraan tidak dapat berhenti bahkan tidak dapat dikendalikan.

Semua sepakat, bahwa fungsi Rem pada kendaraan (mobil, motor, sepeda, becak, bajaj, dsb) adalah untuk memperlambat dan memberhentikan kendaraan. Perangkat rem menjadi demikian penting dalam semua kendaraan. Namun ternyata rem bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya apabila kita tidak benar pengoperasiannya sehingga terjadi kecelakaan. Bahkan pembalap kelas dunia pun mengakui bahwa ngeREM adalah hal yang sulit dalam mengemudi, dan perlu latihan khusus. Membuat agar berhenti atau memperlambat kendaraannya yang sedang berjalan sangat kencang dengan aman dan tidak membahayakan dirinya dan orang lain.

GRIP RODA SANGAT PENTING

Pijakan dan daya cengkram roda/ban terhadap jalan/aspal sangat penting. Dengan adanya grip atau dengan kata lain ban menapak sempurna dengan jalan/aspal maka kendaraan dapat dikendalikan dengan baik. Sebaliknya, apabila jalan licin atau ban kondisi tidak bagus sehingga mengurangi daya cengkram terhadap jalan/aspal, membuat kendaraan sulit dikendalikan atau tergelincir atau sering disebut “Selip”.

Pada saat kendaraan sedang meluncur, kemudian ban mengunci hingga diam/berhenti berputar akibat dari kita menginjak penuh pedal rem, hal ini membuat hilangnya grip / daya cengkram ban terhadap jalan/aspal. Sekalipun kita membelokkan steer dengan maksud menghindar dari tabrakan akan tidak berarti apa-apa, sebab kendaraan tetap akan melaju lurus kedepan akibat hilangnya grip tadi.

Untuk itu kita perlu tetap menjaga agar ban semaksimal mungkin mendapatkan grip terhadap jalan/aspal. Caranya: pada saat kita injak pedal rem dan ban terdengar berdecit mengunci, segera kendurkan injakan pedal rem untuk mendapatkan kembali grip, kemudian ulangi injak pedal rem hingga kendaraan berhenti tanpa terjadi selip.

TEKNOLOGI ABS (Anti-lock Braking System)

Teknologi Rem pada kendaraan pun terus dikembangkan hingga mempermudah pengemudi mengoperasikannya dan dapat tetap konsentrasi penuh untuk menghindar dari kecelakaan yang tidak diinginkan terjadi (saat kondisi panik/rem mendadak).

Setiap roda dipasang sensor dan pulser untuk dikontrol oleh komputer ABS (Control module). Dan perangkat rem pada setiap roda juga dikontrol oleh komputer ABS.
Saat terjadi pengereman, ketika ban terdeteksi tidak berputar atau selip, maka komputer akan membuat perangkat rem pada ban tersebut membuka agar ban kembali berputar untuk mendapatkan grip, dan proses rem dilanjutkan.

Proses ini cukup cepat, sehingga terasa seperti pulsa/getaran yang dapat dirasakan pada pedal rem saat kita menginjak pedal tersebut.
Keras atau halusnya pulsa/getaran pada pedal berbeda tiap mobil, berkaitan dengan teknologi dan kualitas ABS yang digunakan.
Biasanya mobil mahal akan semakin tidak terasa getaran/pulsa nya.

Rem ABS pada sepeda motor. terlihat Sensor ABS dan Gear Pulsernya (bergaris2)

Gambar di bawah memperlihatkan teknologi ABS sangat membantu kendaraan untuk dapat menghindari dari kecelakaan saat melakukan pengereman mendadak.

Untuk kendaraan yang belum menggunakan teknologi ABS, lebih sulit untuk menghindari kecelakaan apabila teknik pengereman tidak benar.
BELAJAR ngeREM YUK…

Kendaraan kita belum dilengkapi teknologi ABS? Yuk kita sama-sama belajar bagaimana mengoperasikan Rem dengan benar, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan.

1. INJAK PENUH ..

Cara pengereman ini paling sering dilakukan, dan umumnya karena berpikir bahwa REM adalah untuk membuat kendaraan berhenti, jadi perlu diinjak sekeras-kerasnya saat rem mendadak agar dapat berhenti. HINDARI CARA SEPERTI INI !!!

Cara pengereman mendadak dengan menginjak penuh pedal rem, umumnya membuat ban mengunci sehingga ban kehilangan grip, kendaraan akan terus meluncur dan sangat sulit untuk dikendalikan. INI SANGAT BERBAHAYA! BERLATIH UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA !!!

Gambar di bawah memperlihatkan jarak pengereman yang sangat panjang akibat ban kehilangan grip terhadap jalan/aspal:

2. PULSE BRAKING


Supaya ban mendapatkan grip saat melakukan rem mendadak, kita dapat melakukannya dengan menginjak-lepas-injak-lepas-injak-lepas pedal rem sedalam-dalamnya dengan cepat. Sebenarnya ini mirip yang dilakukan oleh teknologi ABS.
Dengan teknik Pulse ini jarak pengereman kendaraan menjadi lebih pendek, dan kendaraan dapat sambil dikendalikan arahnya.

Jadi saat melakukan Pulse Braking ini, kita dapat membelokkan kendaraan untuk menghindar dari tabrakan dengan yang di depan kita.

Gambar di bawah memperlihatkan jarak pengereman yang jauh lebih pendek ketimbang cara yang salah (no.1) di atas.

3. THRESHOLD

Cara ini mirip seperti nomor 1, tetapi pedal ditekan hingga hampir habis (titik kritis) sesaat sebelum ban terkunci, terus ditekan hingga kendaraan benar-benar berhenti.

Ternyata cara ini dapat memperpendek jarak pengereman, lebih pendek dari cara Pulse Braking di atas. Namun cara ini memerlukan latihan agar dapat benar-benar mengenali karakter dari rem kendaraan tersebut. Setiap kendaraan memiliki karakter perangkat rem yang berbeda-beda.

Pada gambar di bawah memperlihatkan jarak pengereman yang cukup pendek.


4. DENGAN ABS

Untuk kendaraan yang sudah menggunakan teknologi ABS, maka cara pengereman yang benar adalah saat melakukan Rem mendadak, injaklah penuh pedal rem secara cepat dan kuat, tetap tahan pedal tersebut hingga kendaraan berhenti.

Akan terasa pulsa/getaran pada pedal, itu normal, dan mendandakan fungsi ABS sedang bekerja mengatur pengereman di tiap roda.

Yang sering terjadi, banyak orang yang malah melepas injakan pedal rem tersebut dikarenakan kaget ada getaran pada pedal rem tersebut, sehingga kecelakaan pun terjadi karena kendaraan akhirnya terus meluncur.

Gambar di bawah memperlihatkan jarak pengereman ABS sangat baik.

Catatan:

Kita perlu meluangkan waktu untuk berlatih mengenal karakter kendaraan yang kita gunakan. Cari area kosong yang cukup luas untuk berlatih ngeRem yang benar hingga kita benar-benar mengenal karakter kendaraan tersebut. Berapa jarak pengereman efektif dari kendaraan tersebut.

Dengan mengenal karakter kendaraan, kita dapat menjadi lebih berhati-hati saat berkendara. Tidak memaksakan diri diluar batas kemampuan kendaraan tersebut.

Teknik Threshold juga dapat diterapkan pada kendaraan dengan rem ABS.

Jika dilakukan dengan baik, jarak pengeremannya dengan teknik threshold dapat lebih pendek dibanding dengan ABS.

Perhatikan juga kendaraan di belakang kita saat akan melakukan pengereman mendadak, usahakan untuk dapat menghindar dari tabrakan beruntun.

Jika memungkinkan, ikuti kursus/pelatihan berkendara aman (Defensive Driving Course), untuk mendapatkan teori dan praktek yang lebih mendalam.

wisata murah di Bandung

Bandung terkenal sebagai destinasi liburan yang menarik, namun mahalnya biaya hidup sering menjadi penghambat. Salah satu cara berhemat di Bandung adalah pintar memilih penginapan. Berikut adalah 3 kawasan hotel murah di Bandung.

berikut adalah 3 kawasan hotel tarif bawah yang mungkin menjadi alternatif pilihan Anda saat berlibur ke Bandung.

1. Kawasan Dago

Kawasan yang paling ramai dikunjungi wisatawan saat berkunjung ke Bandung adalah Dago. Banyaknya factory outlet (FO) dan tempat makan menjadi magnet kuat para turis untuk datang ke tempat ini. Ternyata, Dago tidak hanya dipenuhi jejeran FO dan cafe saja, tetapi juga hotel dengan harga relatif murah, seperti Kampung Padi, Bukit Dago, Accordia dan Royal Dago.

Kampung Padi adalah sebuah guest house yang berada di Jl Dago Pojok 89 Af. Harga sewanya termasuk murah dan terjangkau. Untuk sebuah kamar standar dikenai harga mulai dari Rp 180.000. Fasilitas yang bisa Anda dapatkan adalah televisi, kamar mandi bershower, dan tempat parkir tersendiri di setiap kamarnya.

Jika tidak sempat kebagian kamar, jangan kuatir, masih ada hotel murah lain di sekitaran Dago seperti Hotel Accordia Dago. Hotel ini menawarkan harga kamar yang murah, yaitu mulai Rp 263.000. Fasilitas yang diberikan adalah televisi, kamar mandi dengan shower, dan pemandangan yang menghadap Kota Bandung.

Sedikit berjalan ke dalam kawasan, masih ada hotel yang relatif murah, yaitu Hotel Royal Dago. Berada di Jl Ir H Djuanda, tepat di depan jejeran factory outlet, hotel ini memiliki patokan awal harga kamar Rp 290.000.

Semua hotel di atas masih terasa mahal? Tenang saja, masih ada Bukit Dago Hotel yang menyewakan kamar standartnya mulai dari harga Rp 170.000. Semua itu sudah termasuk AC dan air panas.

2. Daerah Cihampelas

Selain Dago, tempat lain yang juga ditempati hotel murah adalah daerah Cihampelas. Ada banyak hotel murah di kawasan ini, mulai dari harga seratusan ribu.

Fasilitas yang diberikan pun cukup lengkap, yaitu pendingin ruangan (AC), air panas dan ruangan yang besar. Salah satunya seperti yang ada di Hotel Samudera.

Berada di Jl Cihampelas 274, Bandung, Hotel Samudera menawarkan penginapan murah meriah. Kamar yang disewakan dimulai dari harga Rp 200.000 pada akhir pekan.

Ada satu trik jika ingin mendapat harga kamar hotel murah, datanglah pada weekdays. Umumnya, hotel di Cihampelas akan memberikan harga yang lebih murah dari harga kamar pada akhir pekan.

3. Kawasan Sukajadi

Jalan Sukajadi memang tidak seramai kawasan lain di Bandung, seperti Dago dan Cihampelas. Namun, tempat ini memiliki penginapan yang murah. Bisa menjadi pilihan untuk Anda yang ingin traveling ke Bandung, namun budget terbatas.

Ada banyak hotel standart yang bisa Anda pilih jika menyusuri Jalan Sukajadi. Salah satunya adalah Hotel Caryota. Hotel ini mewakili beberapa hotel lain yang ada di Sukajadi.

Harga sewa kamarnya pun cukup murah, yaitu muluai Rp 170.000 untuk ruangan yang standart. Jangan takut kepanasan, karena hotel ini dan hotel lain di Sukajadi sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan. Tempatnya pun bersih, nyaman dan minimalis.

Selamat liburan!